• Sering Diremehkan, Ternyata Peran Ayah Juga Penting dalam Parenting

     


    Pada umumnya, hanya Bunda lah yang paling aktif dalam urusan pengasuhan anak. Tetapi, peran Ayah juga memiliki andil penting dalam perkembangan si Kecil. Sama halnya dengan yang dituturkan oleh kang Ugi, dalam TJI Sharing Session pada tanggal 3 September 2021. Terlebih, secara spesifik ia membahas Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak. Seperti apakah pembahasannya? Yuk, pahami lebih lanjut, Jannati!


    Kang Ugi, sebuah nama pena bagi Sugianto. Pria kelahiran Jember, 05 Februari 1986. Tercatat sebagai lulusan FKIP Universitas Jember. Aktivitas utamanya adalah Certified Amil pada LAZ RIZKI, Ketua Forum Zakat Daerah Jember, dan blogger bertema parenting dan lifestyle.  


    Poster TJI Sharing Session - Peran Ayah dalam Pengasuhan

    Kang Sugi merupakan Alumni Blogging Class Batch 2, Alumni Kelas Caption IG dan Alumni Writing Class Batch 3. Di sela kesibukan yang padat masih tetap bisa menjalankan fungsi keayahan dan pengasuhan buah hati. Mari mengenal kang Ugi lebih dekat di Instagram @kangsugianto, dan blog: www.ayahugiparenting.com dan www.deevacollection.com



    Ia juga sudah menerbitkan beberapa karya antologi cerpen, dan satu karya solo Novel berbasis aplikasi menulis. Baginya pengalaman menulis akan meninggalkan jejak kehidupan dan manfaat bagi orang lain. Menurutnya, menulis bukan untuk dikenal, tapi untuk menjadi bagian dari peradaban melalui literasi positif. 



    Dalam TJI Sharing Session kali ini, kang Ugi mengawalinya dengan sebuah pertanyaan “Apa Yang dirasakan saat mengasuh anak dari lubuk hati yang paling dalam?”. Sontak banyak sekali yang menjawab lelah dan bahagia menjadi satu. 


     

    Lalu, untuk pertanyaan selanjutnya “Selama dalam mengasuh anak, lebih sering merasa optimis atau pesimis?.” Tak disangka-sangka, ternyata banyak yang menjawab optimis tetapi seringkali merasa pesimis. Tujuan kang Ugi menanyakan ini adalah untuk menyadarkan  para orang tua agar menjadi pengasuh yang optimis, bukan pesimis. 



    Mengapa demikian? karena selama ini ketika orang tua mengikuti seminar, pelatihan, ataupun sharing session lebih banyak menimbulkan pesimisme dari pada optimis. Misalnya, banyak yang merasa salah dalam mendidik anak. 



    Bahkan, setelah acara selesai banyak yang mulai berpikiran bahwa selama ini tidak mempunyai ilmu parenting. Jika ini menjadi sebuah kesadaran untuk terus berbenah maka baik, lain halnya malah jika menjadi tidak semangat untuk mengasuh maka timbul pesimisme.



    Secara mendalam, kang Ugi mencoba mengulik hal paling mendasar yang harus dibangun oleh Ayah dalam menjalankan peran pengasuhan. Salah satunya adalah Optimistic Parenting. Apa itu Optimistic Parenting? Secara harfiah, pengasuhan ini senantiasa dilandasi dengan keyakinan atau rasa optimis dari dalam diri sendiri. 



    Seperti yang sering kita jumpai saat ini, terutama ketika Pandemi banyak yang memperlihatkan pesimisme dalam mendidik dan mengasuh anak. Mungkin salah satunya karena kemunculan ideologi childfree, dimana pasangan yang sudah menikah tidak memusingkan atau bahkan berniat memilih untuk tidak memiliki anak.



    Pesimisme muncul karena peran ayah yang tidak nyata dalam pengasuhan bersama Bunda. 

    Mengantar anak ke sekolah tugas Bunda, menanami semangat belajar tugas bunda, merawat anak sakit tugas bunda, urusan anak BAB tugas Bunda, semua diserahkan kepada Bunda.  



    Akibatnya Bunda merasa stres, Bunda merasa beban dalam keluarga, beban pengasuhan ada pada dirinya. Sedangkan Ayah hanya berpikir, saya sudah bekerja. Seharian sudah capek dengan urusan kantor. Saya sudah mencari nafkah,dll. 



    Dibalik semua itu, beban berat yang ditumpu para Bunda menimbulkan rasa pesimis. Apa saya bisa melalui semua ini? Apa saya bisa mengantarkan anak-anak kearah yang lebih baik, menjadi anak yang berakhlak, dan lain sebagainya.Ini muncul karena ayah tidak hadir tidak menjalankan peran.



    Kembali kepada optimisme, membangun rasa optimis atau rasa yakin menjadi tugas utama ayah dalam mengasuh anak. Optimis disini adalah membangun pondasi dasar pendidikan anak, yaitu membangun keimanan, dan tauhid mereka. Sebagai orang tua harus mengantarkan anak menjadi anak yang cinta kepada tuhannya.



    Tugas utama pelaku parenting adalah bagaimana memasukkan ruh keimanan kepada anggota keluarga, sehingga optimis untuk maju. Optimis untuk menanamkan keimanan, bahkan peran Ayah begitu besar, belajar dari Lukmanul Hakim, belajar dari Nabi Ibrahim A.S., belajar dari Imron, dan banyak lagi di Al Qur'an yang menunjukkan besarnya peran ayah dalam pengasuhan.



    Ayah adalah perencana, Ayah membuat visi dan misi dalam keluarga. Untuk menjalankan atau mewujudkan visi-misi itulah butuh kerjasama yang kompak dengan Bunda. Ayah perlu duduk bersama, sampaikan pada bunda bagaimana untuk mencapai visi itu.Saat Ayah bekerja, Bunda bisa ikut menjalankan. Jika semua Ayah mempunyai peran dalam pengasuhan, maka akan tercipta keluarga yang tangguh.



    Pada masyarakat umumnya, tugas Ayah hanya semata-mata memberi nafkah kepada keluarga. 

    Pendidikan sekaan jadi tugas guru dan ustadz. Ketika sudah dilakukan. Seakan sudah beres semua. Kenyataannya ketika anak semakin besar, kita merasa ada sesuatu yang kurang. Tidak sesuai dengan yang diharapkan orang tua


    Lalu, bagaimana caranya agar para Ayah bisa sadar dengan perannya? Kang Ugi memiliki tips agar biar para Ayah mau diajak untuk belajar ilmu parenting: 


    1. Pahami ayah terlebih dahulu, kalau belum mau tidak apa-apa, jangan dipaksa.


    2. Terapkan hasil belajar parenting kita di rumah. Pasti suami akan bertanya, "kok ada yang ga biasa ya?." Bisa jadi mereka akan mengajak ngobrol.


    3. Jika suami lagi menemai anak, boleh sekali untuk memberi apresiasi.




    Di akhir sesi, kang Ugi merangkum poin-poin terpenting dalam parenting, yaitu:


    1. Yakinkan bahwa Allah memberikan amanah kepada yang kompeten. Orang tua  adalah manusia kompeten, lebih kompeten dari siapapun, khususnya kepada anak sendiri.


    2. Membangun kepercayaan diri. Selama ini kita sering merasa tidak mampu, tidak punya ilmu. Kenyataannya kita mengerti banyak, memiliki banyak ilmu, Namun tidak menyadarinya.


    3. Jadikan diri sebagai sasaran pertanyaan. Untuk para ayah jadikan diri sasaran pertanyaan diri, dan anak. Biarkan kita di bombardir pertanyaan sehingga ilmu kita bisa keluar. Kita akan belajar saat tidak tahu. 


    4. Kalau meyakini sesuatu jangan tanggung, jangan ada sedikit keraguan



    Demikian peran Ayah dalam pengasuhan anak menurut Kang Ugi. Semoga bermanfaat dan membantu Jannati dalam menyadarkan Ayah untuk ikut serta mempelajari ilmu parenting. Pada kenyataannya, Ayah yang romantis bukan hanya sekedar memberi bunga, tetapi mengasuh anak bersama juga merupakan hal yang romantis.


  • 0 comments:

    Post a Comment

    GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Alamat

    Jl. Kaliurang Gg.Sumurbor No.99x, Sumbersari, Jember, Jawa Timur, Indonesia

    Email

    thejannah.ins@gmail.comm
    prita.hw@gmail.com