• Review Buku Read Signs, Read Us : Membaca Tanda-tanda, Membaca Kita bareng Prita HW





    Review Buku Read Signs, Read Us : Membaca Tanda-tanda, Membaca Kita - Di kesempatan #TJIBookReview setiap hari Kamis di WAG TJI Community, kali ini Kak Prita HW sebagai penulisnya berkesempatan untuk mengulas langsung buku solo catatan perjalanannya ke Singapura pada 2016 yang lalu. Seperti apa? Yuk, kita simak, jannati.

    Awal mulanya, Kak Prita bercerita bahwa menulis buku ini sebenarnya karena mendapat beasiswa menulis dari Kemdikbud di 2016. Difasilitasi oleh Gol A Gong dkk dari Rumah Dunia, Serang, Banten yang tergabung dalam Masyarakat belajar Foundation. Waktu itu Kak Prita sebagai Pengurus Forum Taman Baca Masyarakat Jabar ceritanya, berangkat bersamaan dengan 99 warga belajar TBM se-Jabar.. 

    "Aslinya, saya tuh gantiin orang in last minute, karena paspornya ga jadi. Jadi rejeki nomplok sehabis operasi laparatomi (hamil diluar kandungan) saat di Bekasi. Awalnya sempet mbatin, paspor yg saya buat 2013, baru pernah ke Thailand sekali karena dapetin reward kantor pas kerja di advertising, masa sih sampe expired 2018 lalu, ke luar negerinya cuma satu kali?," begitu curhat Kak Prita. 

    "Nggak taunya Allah menjawab doa saya, padahal hanya bergumam. Masyaa Allah ❤", tambahnya. 

    Sempat mengira kalau kompensasi dari beasiswa itu adalah menulis artikel yang bakal dibukukan bareng-bareng alias antologi, nggak tahunya 1 buku per orang! Dan Kak Prita baru tahunya pas tanda tangan kontrak di Banten. Kalau sampai pulang dari Singapura dan buku tersebut nggak jadi terbit, wajib mengembalikan dana Rp. 8 juta. Wow!.

    "Saya termasuk orang yang berani ambil resiko. Saya pikir ini adalah kesempatan untuk kasih tantangan ke diri sendiri," ungkap Kak Prita lagi. 

    ***

    "Menulislah dari jiwamu yang luka, dari jarimu yang kaku. Tapi pikiran dan perasaanmu kau bebaskan kemana pergi. Penulis yang baik tak akan pernah berhenti berkarya, sepanjang batin dan nurani haus akan kata-kata" - Rahmat Heldy Hs, sastrawan Ind

    Quote itu dipilih sebagai pembuka buku, dilanjut dengan puisi yang dirancang khusus oleh salah seorang relawan Rumba HOS Tjokroaminoto Bekasi dimana Kak Prita menjadi direkturnya kala itu.

    Sebelum ke poin Read Signs Read Us, Kak Prita bercerita bahwa awal banget menginjakkan kaki di Changi Airport, langsung teringat wejangan tentang  negeri 1000 peraturan ini. Makanya, angle penulisan yang diambil adalah membaca tanda-tanda, karena rn semua orang mesti punya tingkat literasi tinggi buat bisa hidup disana.

    "Yang saya rasain saat awal di bandara, hening dan rapiii. Nggak ada riuh kayak suara dengungan nyamuk kayak disini. Orang lebih suka menyendiri, nggak berkelompok. Dan semua based machine. Mau alat pijet, beli minum, internet dsb," ceritanya lagi.

    Dan, ada cerita menarik saat di bandara. Kak Prita yang sekelompok terdiri dari 10 orang, menemukan fakta ada 1 orang yang diinterogasi di Imigrasi lkarena namanya yang islami. FYI, polisi jaringan internasional saling terhubung mencurigai nama-nama yang terlalu islami sebagai kemungkinan teroris. Heleh-heleh, bisa-bisa aja kan! 

    "Lepas dari imigrasi itu, 9 orang lainnya, dari bandara, naik MRT dengan membeli tiket yang bisa dipakai all in one bersama busway. Sistemnya deposit yang nanti akan dikembalikan saat kita menukarkan kartu. Kesan menaiki MRT pertama, mirip commuter, cuma antrinya beda banget, berjejer macem antrian di McD. Terus pas di dalam MRT, duinginnn, dan wuzz cepettt. Malam itu, melewati 10 stasiun cuma dengan 15 menit. Luar biasa." ungkap Kak Prita lagi.

    Malam itu langsung menuju Merlion. Sebelum ke hotel. Kak Prita yang baru bed rest sebulan pasca operasi, harus berjuang membopong backpack dan kamera DSLR suami yang terasa berat dikalungkan di leher (itu pun mesti mengingat teori fotografinya yang sempat dipelajari privat semalam sebelum keberangkatan). Hmm..

    "Saya nggak ikutin ritme guide kelompok. Milih slow travel, saya ngumpulin street photography (karena ter-influence buku puisi A2DC nya Aan Mansur). Jadi deh kesasar. Keasikan motoin jalanan, orang-orang, pengamen, dll. Untung ketemu temen yang juga fotografer. Kami cari bareng itu Merlion." Kak Prita menjelaskan kisahnya lagi.

    Siapa sangka Kak Prita merasa tertipu dengan gembar gembor Merlion. "Canggih banget bahasa promo Kemenparnya Singapura. Orang patung Singa kayak di depan gang-gang jalan di Indonesia, bisa jadi simbol mendunia. Melongo saya, asli. Dan mengutuk diri sendiri, damn for my Indonesia, banyak yang bisa dijual, tapi nggak se-spektakuler caranya Singapore."

    Kak Prita di saat yang sama juga ketemu bule yang lagi bawa kamera juga. Si bule pun bertanya, "How do you think about Merlion? They promoted a lot ya?" . Ternyata bule itu juga merasakan nasib dan perasaan yang sama dengan Kak Prita.

    Walhasil, malam itu Kak Prita melongo sambil memandangi sungai buatan di depan mata. Sambil melihat kerlap kerlip lampu Marina Bay. Macam taman kota lah kalau di Indonesia.

    "Dari sana, saya ngamatin banyak pengamen yang semangat menghibur meski mereka di usia senja. Pake biola rata-rata. Yang naroh kotak koper gitu di depannya. Then, merhatiin waiters resto yang sumringah nawarin kita-kita makanan pake bahasa melayu. Tapi ga terpengaruh lah ya, kan pengen hemat," cerita Kak Prita.

    Malam itu, ternyata Kak Prita juga mesti mengalami drama tersesat salam pencarian hotel karena guide kelompok tak bisa dihubungi. Waduh. Untung, tersesatnay akhirnya ke hotel temen sendiri. Dan, ternyata memang campur, antara laki-laki dan perempuan. 

    First time, tidur di hostel ala backpacker yang area tidurnya cuma sekasur single, atasnya sudah orang lain. Macem tempat tidur asrama. Untung saat itu yang berada di atas bukanlah bule. AC nya dingin, wifi-nya kuenceng. Tapi terasa kaku karena memang tidak ada sekat antara laki-laki dan perempuan. 

    Perjalanan berikutnya mengantarkan Kak Prita ke Little India, Kampung Bugis, Clementi, dan Sentosa. Minus China Town yang tak sempat explore selain  membeli oleh-oleh. Lebih detilnya, jannati bisa membaca bukunya langsung ya, hehe.

    ***

    Buku ini juga menceritakan pengalaman paling berkesan dari seorang Kak Prita adalah saat berkunjung ke NLB (National Library Board). pengalaman lengkapnya diceritakan detil di buku ini.

    Akhir dari Read Signs, Read Us

    Pada akhirnya, Kak Prita memberikan kesimpulan tentang maksud dari membaca tanda-tanda, membaca kita, seperti di bawah ini :

    Kelebihan Singapore :

    • Efektif & Integratif
    • Nggak ada polisi, all CCTV. Tiba-tiba saat salah, polisinya muncul begitu saja. 
    • Good marketing
    Kekurangan Singapore :

    • Kerja sampai tua
    • Flat city
    • Apa-apa mahal
    Sedangkan di Indonesia, plusnya :

    Multikultur = lebih kaya
    Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing
    Lebih bebas dalam hal peraturan seperti merokok, makan, minum, dsb

    Minusnya :

    • Sombong karena banyak SDA, padahal banyak dikelola asing aseng, sampai nggak bisa menikmati sendiri
    • Aturan dibuat untuk dilanggar
    • Bad marketing

    Kesimpulan dari Kak Prita kira-kira begini : "That's why hidup disana itu mesti harus selalu baca tanda-tanda, kalau nggak, bisa kena denda selangit. Apalagi orang Indonesia yang sukanya slebor atau terserah gue. Hm, cuma orang-orang Singapore itu memang ketakutan atau merasa "dikebiri" sama peraturan pemerintahnya. Mrk jadi apatis sama keputusan-keputusan pemerintah dan cenderung menerima daripada berurusan panjang."

    Nah, itu tadi jannati review buku yang langsung dibawakan oleh penulisnya. Seru banget kan? Untuk bukunya, karena sudah tidak dicetak lagi, tunggu edisi baru dari Kak Prita ya, yang kabarnya ingin menerbitkan ulang dalam konsep baru. Yey, ditunggu!


    - The Jannah Institute - 


  • 0 comments:

    Post a Comment

    GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Alamat

    Jember, Jawa Timur, Indonesia

    Email

    thejannah.ins@gmail.comm
    prita.hw@gmail.com

    Mobile

    +6285 33 1470 887