The Jannah Institute

We help you to do 3 main points

Selamat datang di The Jannah Institute

The Jannah Institute merupakan sebuah knowledge center yang berfokus pada tiga ranah, diantaranya writing services (jasa kepenulisan), workshop provider (penyedia pelatihan), dan literacy consultant (konsultan di bidang literasi) .
The Jannah Institute muncul sebagai wadah berbagi pengetahuan sehingga bisa melayani lebih banyak segmen masyarakat yang membutuhkan wawasan di tiga bidang tersebut. Selain, lebih jauh, melahirkan generasi yang mampu bersaing dan menjadi berdaya dengan totalitas dalam kemampuan yang dimilikinya.

  • Jember, Jawa Timur, Indonesia
  • +6285 33 1470 887
  • thejannah.ins@gmail.com
  • www.thejannahinstitute.com
Me

Our Professional Skills

Writing services, workshop provider, literacy consultant

Writing services 80%
Workshop provider 95%
Literacy consultant 75%

Writing Services

Jasa kepenulisan profesional untuk kebutuhan artikel lepas, artikel websites dan blog (content writing), buku (editing, story teller)

Travel Wri(ting)-Pho(tography) Workshop

One day workshop yang khusus mengulas penulisan perjalanan sekaligus melengkapinya dengan foto perjalanan

Freelance Writing Workshop

One day workshop yang khusus mengulas genre penulisan freelance dan tips-tips menuju dunia penulisan freelance

Exclusive Blogging Class

Kelas eksklusif khusus persiapan menjadi seorang blogger profesional. Didesain dengan pendampingan selama 3 bulan

Public Speaking Class

Kelas berbicara di depan umum yang didesain dengan pendampingan selama 2-2,5 bulan untuk anak-anak, remaja, dan umum

Fun Writing Class

Kelas menulis yang didesain dengan pendampingan selama 2-2,5 bulan untuk anak-anak dan remaja

0
event as public speaker
0
alumni offline class
0
content writing
0
library projects
  • Keterampilan Berbicara itu Perlu. Tambah ilmu di Kelas Online (Daring) Public Speaking for Moms The Jannah Institute


    Seni keterampilan berbicara itu sangat penting untuk dimiliki oleh setiap orang, karena tidak hanya untuk melatih mengelola emosi saat harus berhadapan dengan banyak orang, tetapi juga untuk menambah rasa percaya diri seseorang. Bagi seorang ibu, seni keterampilan berbicara sangat diperlukan, karena kita tidak pernah tahu kapan kesempatan emas serta tantangan seru akan datang. Keterampilan berbicara itu perlu, makanya saya menambah ilmu dengan ikut kelas online atau daring Public Speaking for Moms di The Jannah Institute. 

    Menurut Ibu Septi Peni Wulandani, pendiri Komunitas Ibu Profesional, rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang akan mengantarkan seluruh anggota keluarganya menuju peran peradaban. Oleh karena itu ibu adalah salah satu arsitektur peradaban, yang bisa membangun peradaban dari dalam rumah, yang bisa menemukan peran peradabannya sebagai individu dan bisa memandu anak-anak untuk menemukan peran peradabannya. Bagi Christina dalam bukunya yang berjudul Sekolah Menjadi Orang Tua menyebutkan bahwa rumah adalah sekolah pertama dan utama di dunia, dan gurunya adalah orang tua. Selain itu ada pepatah Arab menyebutkan bahwa Ibu adalah pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya. 

    Dari sana dapat diambil suatu hal mendasar bahwa seorang ibu harus terus membekali dirinya dengan berbagai keterampilan dalam perannya dalam mendidik dan mengasuh anak-anaknya. Salah satu skill yang harus dimiliki oleh sosok ibu adalah keterampilan berbicara atau public speaking. 

    Mendidik Anak Perlu Seni Berbicara?

    “Masak sih, mendidik anak memerlukan seni berbicara? Bukannya kita tinggal mengajari anak kita saja? Nggak perlu kan kita yang seorang ibu perlu belajar tentang seni berbicara?”

    Beberapa pertanyaan di atas mungkin juga terlintas di pikiran jannati, para sahabat The Jannah Institute (TJI) semuanya. 

    Tentu saja seni berbicara sangat diperlukan dalam pola pendidikan dan pengasuhan anak. Saat ibu hendak mengajarkan atau mempengaruhi agar melakukan sesuatu atau memberikan instruksi serta contoh kepada anaknya. Saat berdiskusi serta menjawab pertanyaan anak. Saat hendak membacakan cerita untuk anak. Saat hendak bermain peran bersama anak. Saat hendak mendisiplinkan anak. Kesemuanya memiliki perbedaan dalam teknik penyampaiannya, kesemuanya itu membutuhkan seni berbicara. 

    Baca Juga : Parenting Qurani : Mendidik Anak dengan Bahagia

    Sedangkan bagi saya, seorang ibu pekerja di ranah domestik, selain untuk diterapkan di saat berinteraksi dan berkomunikasi dengan keluarga seni keterampilan berbicara diperlukan saat sedang melakukan kegiatan komunitas serta aktivitas sosial lain. Pada komunitas dimana saya mengambil peran sebagai pengurus di dalamnya, kerap ada kebutuhan untuk memberikan testimoni atau kesan/pengalaman yang harus ditampilkan dalam bentuk video. Hal lainnya adalah saat mengikuti kelas bahasa asing di tempat saya tinggal kurang lebih empat tahun ini, Tsukuba, Jepang. Di setiap akhir periode kelas, umumnya selalu diadakan acara perpisahan dimana masing-masing murid harus memberikan speech atau pidato singkat dalam bahasa Jepang tentang diri atau negara tempat asalnya. 

    Nah, di acara-acara seperti inilah, saya merasa keterampilan untuk berkomunikasi di depan orang banyak sangat dibutuhkan. Atau kesempatan lainnya adalah saat dihubungi oleh salah satu staf pengajar dan diminta untuk mengisi (memperikan paparan materi) dalam Kelas Internasional bagi murid kelas dua di salah satu Sekolah Dasar yang ada di kota Tsukuba. Aktivitas-aktivitas yang saya sebutkan di atas tentu merupakan kesempatan berharga bagi seorang ibu pekerja di ranah domestik untuk lebih mengembangkan diri dimana seni keterampilan berbicara atau public speaking  menjadi sangat diperlukan. 

    Seni Berbicara Mampu Membangun Rasa Percaya Diri

    Kepercayaan diri diartikan sebagai keyakinan terhadap diri sendiri sehingga mampu menangani segala situasi dengan tenang, kepercayaan diri lebih banyak berkaitan dengan hubungan seseorang dengan orang lain. Tidak merasa inferior di hadapan siapapun dan tidak merasa canggung apabila berhadapan dengan banyak orang.

    Ada pendapat lain yang menyebutkan bahwa kepercayaan diri adalah sikap pada diri seseorang yang bisa menerima kenyataan, mengembangkan kesadaran diri, berpikir positif, memiliki kemandirian dan mempunyai kemampuan untuk memiliki segala sesuatu yang diinginkan.

    Dengan mengikuti Public Speaking Class, kita diminta menganalisa terlebih dulu siapa audiens kita, dalam situasi seperti apa kita diminta untuk menyampaikan informasi. Materi atau informasi seperti apa yang akan dibawakan. Sehingga berangkat dari sana, jannati bisa mempersiapkan hal-hal pendukung yang dapat membangun dan meningkatkan kepercayaan diri. Misalnya saja dengan berpenampilan yang sesuai serta nyaman bagi diri. Dengan tampil nyaman dan sudah mempersiapkan segala sesuatunya, tentu rasa percaya diri semakin bertambah. 

    Tampil percaya diri saat berbicara di hadapan publik adalah salah satu indikator keberhasilan dalam melakukan public speaking. Menampilkan rasa percaya diri di hadapan publik juga tentunya akan menambah kesan hebat di mata para audiens nya. Percaya diri juga mampu memberikan pengaruh yang signifikan kepada para pendengarnya dalam memahami kejelasan oleh pembicaranya. 

    Tambah Ilmu di Kelas Online (Daring) Public Speaking for Moms Batch 5 The Jannah Institute

    Di awal bulan Juli 2020 lalu, The Jannah Institute, sebuah knowledge centre yang berlokasi di kota Jember mengadakan kelas online (daring) bertema Public Speaking for Moms yang kali ini merupakan kelas angkatan kelima. Suatu media pembelajaran bagi para ibu untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan diri khususnya di bidang komunikasi. 

    Menurut Prita Hendriana Wijayanti, inisiator dari The Jannah Institute, dengan bekal ilmu seni berbicara atau yang sudah familiar dengan istilah public speaking, orang yang mempelajarinya akan memperoleh beberapa manfaat, antara lain : 

    • Lebih percaya diri dalam menyampaikan opini
    • Lebih luwes saat berbicara di depan kamera 
    • Terbiasa menghadapi publik atau orang banyak, baik secara online maupun bertatap muka langsung atau offline
    • Lebih menyenangkan saat menemani anak belajar di rumah apalagi di masa School From Home seperti sekarang ini

    Nah, banyak sekali bukan manfaat dari mengikuti kelas seni berbicara atau public speaking ini. Tentunya jannati pun juga semakin ingin tahu tentang apa saja sih yang dibahas di kelas yang dilakukan dengan menggunakan tiga media, yakni melalui aplikasi Zoom, Google Meet dan What’s App Group ini. 

    Untuk menjawab rasa penasaran jannati, berikut ini hal-hal yang dikupas dan dijabarkan di dalam kelas Public Speaking for Moms batch 5 yang telah aku ikuti bersama beberapa ibu hebat lainnya yang sebagian besar berdomisili di kota yang terkenal dengan Jember Fashion Carnival ini, selain beberapa kota lain seperti Depok, dan Kediri.


     

    Kelas yang diadakan selama empat pekan ini diisi dengan materi yang sungguh berbobot.

    Pertemuan Pertama diawali dengan perkenalan para peserta serta berbagi pengalaman paling membahagiakan oleh Siska Rofitasari, salah seorang alumni kelas Public Speaking for Youth, yang juga merupakan moderator di kelas ini. Dilanjutkan dengan dua materi dasar yakni Urgensi Public Speaking serta Detoks Ketakutan dan Self Talk yang disampaikan oleh Prita Hendriana Wijayanti, pendiri The Jannah Institute yang sejak duduk di bangku sekolah sudah menggiatkan kegiatan literasi bahkan sampai saat ini. 

    Di materi pertama kali ini, saya mendapatkan pesan yang sangat menarik dan terus teringat. 

    “Demam panggung adalah hal biasa. Hal alamiah yang tentunya dialami oleh siapa saja, karena kita semua adalah manusia. Dengan semakin banyak jam terbang maka demam panggung akan semakin dapat diatasi”

    Di pertemuan pertama yang dilakukan secara online melalui aplikasi Zoom, para peserta diberi tugas berupa berinteraksi langsung untuk menyampaikan komitmen tujuan atau goals yang hendak dicapai dalam mengikuti kelas ini. Serta berbagi tentang pengalaman melakukan komunikasi di depan khalayak sebelumnya, dan bagaimana yang dirasakan saat itu. Ini dalam rangka menemukan kekuatan bersama. Dan, jangan lupakan untuk membuat selftalk setiap harinya dengan menuliskannya di media sosial sebagai refleksi dari pertemuan perdana ini.

    Pertemuan kedua diisi dengan dua materi yang juga diberikan oleh inisiator The Jannah Institute. Materi pertama berjudul voice power serta kegunaannya, sedangkan yang kedua adalah membaca bercerita, melatih instonasi dan gesture. 

    Buat saya, materi kedua ini sangatlah menarik karena belum pernah sekalipun mendapatkan ilmu tentang voice power. Apalagi ada waktu dimana seluruh peserta yang hadir melalui media Zoom diminta mempraktekkan materi kekuatan suara. Berbicara dengan menggunakan dengan tiga teknik pengeluaran suara yang berbeda. Seru banget pokoknya. Bahkan anak-anak saya jadi ikut menirukan apa yang ibunya ucap dan lakukan, hehe.

    Tugas di pekan kedua ini juga makin seru, yakni seluruh peserta diminta membuat rekaman suara sedang bercerita. 

    Yang bikin menantang adalah para peserta diminta mengumpulkan rekaman tersebut dalam bentuk aplikasi Podcast. Aplikasi yang benar-benar asing dan baru buat saya. Suatu aplikasi yang mirip dengan radio. tapi sebenarnya sangat berbeda. Kesamaannya adalah podcast umumnya berupa audio (walaupun sekarang juga ada podcast video) yang didengarkan seperti saat sedang mendengar radio. Kesamaan lainnya adalah pendengar harus memilih saat hendak mendengarkan siaran. Bedanya bila di radio pendengar akan mendengarkan dengan memilih stasiun radio A atau stasiun radio B dan seterusnya. Sedangkan di podcast pendengar harus memilih mau mendengarkan podcast milik siapa dan memilih topik tertentu.

    Struktur simple video blog atau biasa disingkat vlog oleh inisiator The Jannah Institute yang juga seorang blogger professional menjadi materi ketiga yang diberikan di dalam kelas Public Speaking for Moms batch 5 melalui media Zoom. Di materi ini para peserta diberikan penjelasan tentang cara membuat content untuk vlog, yakni harus terdiri dari opening, main content, dan closing. 

    Nah, bukan The Jannah Institute namanya bila tidak memberikan tugas yang menantang bagi para pesertanya. Jelang pekan terakhir ini, tugas yang harus dikerjakan oleh peserta adalah membuat vlog dengan durasi 5 menit dengan tema tertentu yang telah dipilih berdasarkan undian. 

    Salah satu contoh tema yang diberikan kepada peserta adalah tentang Kiat Menjaga Kesehatan bagi Para Ibu di tengah Situasi Pandemi. Sebenarnya mencari bahan materi tidaklah terlalu sulit. Yang membuat menantang adalah vlog ini harus diunggah di media sosial terutama Instagram TV milik para peserta. Sungguh benar-benar menantang, bukan? 

    Baca Juga : Ibu-ibu Belajar Public Speaking, Buat Apa?

    Untuk materi pekan keempat atau terakhir adalah tentang voice over technique yang disampaikan langsung oleh Eenly Putri, seorang voice over talent dari PT Siantar Top, yang juga seorang Programme & Production Manager SSTV. Narasumber yang akan membagi ilmu dan pengalaman di bidang voice over (pengisi suara), bidang yang sedang naik daun saat ini.  

    Untuk tugas pekan keempat ini juga tidak kalah seru dan menantang bagi para peserta, karena di pekan terakhir ini harus menyelesaikan tantangan voice over untuk salah satu iklan produk. 

    Tugas yang benar-benar memerlukan kesabaran dan mengasah keterampilan berbicara, serta mengolah rekaman suara agar pas dengan video iklan yang diputar. Sungguh tugas yang melibatkan banyak faktor keterampilan setiap peserta. 

    Bonusnya, ada  final perform dalam format webinar sebagai project akhir kelas ini, dan alhamdulillah, saya berkesempatan menjadi salah satu narasumbernya. Sungguh pengalaman perdana yang tak bisa dilupakan. Saya berbagi tentang Belajar Public Sepaking bagi Ibu Perantauan. MasyaaAllah, ini pengalaman pertama menjadi narasumber, bukan sebagai peserta. 

    Kelas Online Public Speaking for Moms The Jannah Institute, Recommended!

    Kelas Public Speaking yang diadakan oleh The Jannah Institute ini sangat layak untuk diikuti. Materi kelas yang lengkap dan berbobot seputar ilmu berkomunikasi, menambah keterampilan dalam berbicara bagi para peserta karena dibimbing langsung oleh public speaker, fasilitator dan trainer yang telah berpengalaman di organisasi dan berkomunitas di tingkat lokal maupun nasional. Namun, tidak hanya itu, melalui tugas-tugas menantang yang diberikan pun dapat membuat para peserta mendapatkan skill lain yang juga sangat berrmanfaat. Antara lain belajar untuk berkomitmen dalam mengikuti kelas sampai selesai, memacu diri untuk selalu mengumpulkan seluruh tugas-tugas, berupaya untuk memahami perkembangan teknologi dan dapat berinteraksi dengan para ibu hebat sesama pembelajar. 

    Dengan mempelajari public speaking, saya merasa menjadi lebih percaya diri saat harus mengutarakan pendapat di dalam suatu diskusi, sudah mulai bisa mengatur rasa gugup yang menghampiri saat hendak memulai berbicara di depan publik. 

    Jadi seni berbicara atau public speaking sangat layak menjadi salah satu ilmu yang dipelajari oleh seorang ibu. Dengan ,public speaking, seorang ibu mampu membuat rasa percaya diri semakin terbangun sehingga saat tanpa diduga ada kesempatan atau tantangan untuk berbicara di depan orang banyak menghampiri, jannati tanpa ragu untuk mengambil dan menyelesaikannya.

    Semoga pengalaman mengikuti kelas online (daring) Public Speaking for Moms batch 5 dari The Jannah Institite ini dapat bermanfaat. Terima Kasih. 


    Kontributor : Arsita Rahadiyani Loekito

    Momblogger  

    Alumni Public Speaking for Moms batch 5, 

    Alumni Blogging Class Basic, Intermediate, Advance batch 1

  • Review Buku : 64 Sahabat Teladan Utama



    Jannati, siapa disini yang suka baca shirah atau yang berhubungan dengan sejarah masa lampau? Bisa lho menghidupkan shirah dari rumah melalui buku 64 Sahabat Teladan Utama yang diterbitkan oleh Sygma Daya Insani ini. Shirah adalah salah satu cara pembelajaran dan teladan yang baik, terutama dimulai dari usia dini pada anak-anak. Buku ini salah satu rekomendasi terbaik supaya anak bisa mengenal sosok sahabat-sahabat yang hebat untuk dijadikan idola. Buku ini kemudian dikenal dengan sebutan  64 STU. 

    Awalnya saya melihat buku ini dari status seorang teman di media sosial, yang kebetulan menjual buku-buku islami bergizi. Pada saat itu ada diskon dari penerbit di akhir tahun, saya pun segera mengambil kesempatan ini. Ketika bukunya sampai, anak saya tidak sabar untuk membacanya. Yes, cukup mengalihkan mereka dari gadget. 

    Shirah tentang Rasulullah  SAW dan para sahabatnya selalu menarik untuk dibaca. Sygma Daya Insani banyak menerbitkan buku-buku shirah yang sangat bermanfaat. Salah satunya adalah buku 64 Sahabat Teladan utama ini. Buku ini dilengkapi dengan gambar,  hadits, dan kosa kata Bahasa Arab beserta artinya.

    Ada 14 buku dalam 1 paket 64 STU ini, beberapa diantaranya berbentuk komik sehingga dapat merangsang minat anak-anak untuk membaca. Buku ini bukan hanya bagus untuk anak-anak, tetapi untuk orang dewasa juga sangat bermanfaat. Sebagai pengingat tentang shirah dan dapat menjadi media untuk lebih dekat dengan anak. Agar anak kita mencintai Allah, Rasul, dan para sahabatnya. 

    Paket 64 STU ini terdiri dari 14 judul yaitu :


    Yang berbentuk cerita disertai gambar :

    1 Khalifah Pertama : Abu Bakar Ash Shiddiq
    2 Singa Padang Pasir : Umar bin khattab
    3 Pemilik Dua Cahaya : Utsman bin Affan
    4 Singa Khaibar : Ali bin Abi Thalib
    5 Pembela Islam Ahli Surga : Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam
    6 Pedagang Dermawan Ahli Surga
    7 Tetangga Rasulullah di Surga : Said bin Zaid dan Abu Ubaidah
    8 Para Pemimpin Bidadari Surga : Khadijah binti khuwailid, Aisyah binti Abu Bakar Ash Shiddiq, Fatimah Az Zahra, Asma Binti Abu Bakar

    Sedangkan yang berbentuk komik :

    9.  Para Pemburu Surga : Mus'ab bin Umair, Salman Al farisi, Abu Dzar Al Ghiffari, Bilal bin Rabah, Abdullah bin Umar, Shuhaib, Mu'adz bin Jabal, Miqdad bin Amr dan Hamzah.

    10. Para Perindu Syahid : Abdullah bin Mas'ud, Hudzaifah Al Yaman, Ammar bin Yassir, Ubadah bin Shamit, Amr bin Al Ash, Khabbab bin Al Arat, Utsman bin Mazh'un, Zaid bin Haritsah, Ja'far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah.

    11. Para Pahlawan Islam : Khalid bin Walid, Umair bin Wahb, Abu Darda, Zaid bin Khattab, Umair bin Sa'ad, Zaid bin Tsabit dan Khalid bin Sa'iq

    12. Para Pencari Hidayah : Abu Ayyub Al Anshari, Abbas, Abu Hurairah, Al Barra, Utbah bin Ghazwan, Tsabit bin Qais, Usaid bin Al Hudhair, Abdullah bin Ammar dan Amr bin Al Jamuh.

    13. Para Pembela Nabi : Ubay bin Ka'ab,  Saad bin Ubadah, Usamah bin Zaid, Abdullah bin Amr bin Ash, Abu Sufyan bin Harits, Imran bin Hushain dan Anas bin Malik masuk dalam sahabat pembela nabi. 

    14. Para Pecinta Kebenaran : Salamah bin Al Akwa, Abdullah bin Abbas, Abbad bin Bisyir, Suhail, Amr bin Ash, Abdullah bin Qais dan Salim. 

    Ada bonusnya juga lho... Apa aja sih bonusnya?
    • Puzzle berbentuk balok yang terdiri dari 6 gambar yang bisa dibolak balik
    • Peta sejarah kekuasaan Islam
    • Biografi singkat ilmuwan muslim

    Kelebihan 64 STU Versi Saya

    Bahasanya yang mengalir membuat kita ingin membacanya sampai akhir. Ada juga 6 buku yang berbentuk komik sehingga membuat anak-anak balita yang belum bisa membaca juga tertarik untuk membukanya. 

    Kelebihan buku ini kertasnya bagus, tidak mudah robek, hard cover disertai gambar dan ilustrasi menarik. Selain mengetahui kisah-kisah para sahabat yang dapat diteladani, kita disuguhkan dengan kutipan-kutipan hadits dan kosa kata Bahasa Arab beserta artinya. 

    Selesai aktivitas membaca buku, kita bisa bermain puzzle untuk mengasah otak dan kreativitas. Membaca merupakan jalan untuk membuka jendela dunia. Dengan membaca buku 64 STU ini dapat membuka cakrawala kita pada masa-masa yang dilalui para sahabat tersebut. Sehingga kita bis amenjadikannya teladan di masa sekarang.

    Jannati pastiny asetuju kan kalau kita sebagai manusia adalah makhluk pembelajar? Belajar dari pengalamani diri sendiri maupun melalui orang lain, terlebih para nabi dan para sahabat. Karenanya, shirah adalah pembelajaran yang baik. Sepertiga Al Qur'an berisi tentang kisah. Alangkah baiknya bila berkisah tentang sejarah nabi dan para sahabatnya. 

    Jika jannati ingin mengenalkan shirah kepada ananda dan melengkapi perpustakaan keluarga, buku ini bisa menjadi pilihan sekaligus investasi jangka panjang. Saya sudah membuktikannya.


    - The Jannah Institute -



    Kontributor : Syafrida Yunita
    Foto : dokpri
      

  • Menjadi Guru itu Tantangan : Sebuah Pengalaman

    Mengajar, Pendidikan, Sekolah, Kelas, Pengajaran


    Saya Sun, panggil saja begitu. Ini adalah tulisan pertama saya. Kali ini, ijinkan saya bertanya, siapa sih yang tidak mengenal kata GURU?

    Iyap, suatu profesi yang membuat ungkapan "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa" menjadi begitu melekat dengan profesi guru. Bukan tanpa alasan kalau profesi guru mendapat sebutan itu, sudah banyak cerita, kisah, peristiwa, dibalik penyebutan istilah guru.

    Banyak cerita sedih yang akhirnya bisa mengantar pada kesuksesan yang diidam-idamkan dalam karir, menjadi PNS misalnya. Tapi tak sedikit pula cerita sedih perjuangan guru yang setelah sekian puluh tahun tetap saja masih berstatus honorer. Bahkan, ada segelintir kisah juga yang akhirnya harus menyerah dan vakum dari profesi mulia itu. Salah satunya adalah saya sendiri.

    Selama kurang lebih empat tahun, terhitung dari tahun 2012 sampai terakhir 2016, alhamdulillah saya sudah menjadi guru di beberapa tempat, baik itu guru sekolah dasar umum maupun guru bimbel. Ada beberapa pengalaman yang ingin sekali saya bagi, boleh ya? 

    Pertama, saat saya menjadi asisten guru di bimbel tempat kakak saya, benar-benar pengalaman tak terlupakan. Saat itu, perjuangan membagi waktu antara mengajar di pagi hari dan setelah Dzuhur mengajar bimbel, rasanya tak mudah. Perjalanan yang cukup jauh antara tempat tinggal saya di Jakarta Timur ke tempat bimbel yang berada di Jakarta Selatan, ditempuh dengan menggunakan transportasi rute Kampung Melayu-Tanah Abang. Saat keberangkatan, saya masih bisa mendapatkan kursi karena berangkat langsung dari terminalnya. Tetapi saat pulang, subhanallah, saya harus rela berdiri di pinggir pintu saking padat dan sesaknya dengan ibu-ibu yang selesai kulakan di Pasar Tanah Abang.

    Tidak terbayang betapa lelahnya hanya untuk mengajar selama satu jam. Saking lelahnya, akhirnya menjadikan saya tidak fokus saat turun, dan membuat saya sempat beberapa kali terjatuh dari bus tersebut. Pernah pula terseret beberapa meter. Tapi, alhamdulillah masih diberikan kesempatan hidup sampai hari ini oleh Allah.

    Pengalaman kedua adalah saat saya mengajar di SD Swasta. SD itu muridnya hanya sedikit, dan mungkin masuk ke kategori SD untuk kalangan kaum papa. Murid-murid  laki-laki super aktif. Sayangnya, aktif disini dalam pengertian kurang baik. Seperti mereka selalu keluyuran saat jam pelajaran untuk bermain bola, bolos dan kabur dari kelas untuk bermain PS, bahkan paling parahnya saat salah seorang dari murid lelaki hampir menonjok saya saat saya tegur kelakuannya menjahili anak perempuan.. Benar-benar tidak ada rasa hormat sama sekali terhadap guru.. Belum lagi pemikiran mereka akan gampangnya pemberian nilai walaupun kelakuan minus tetap mereka lakukan, bahkan saat saya mengancam akan memberikan nilai jelek maka dengan entengnya mereka berkata "nanti juga bakalan diubah menjadi bagus sama kepala sekolah..." Subhanallah.. 

    Banyak tantangan dan kesulitan saat saya menghadapi mereka. Sampai suatu kali saya menangis di kantor saking kewalahannya. Pernah suatu saat juga setelah istirahat, anak didik saya yang laki-laki menghilang semua, setelah saya telusuri, ternyata mereka tetap asyik bermain sepak bola di belakang sekolah padahal bel masuk pelajaran telah 20 menit berlalu.

    Itu baru sedikit sekali dari kelakuan 'ajaib' mereka. 

    Kalau diingat sekarang, kadang saya jadi geli sendiri. Masih teringat saat saya sambil memegangi rok supaya tidak terkena tanah lumpur harus ngomel-ngomel menyuruh mereka supaya masuk kelas.

    Pengalaman lain saat mengajar di SD itu adalah ketika saya diutus untuk mewakili sekolah. Dan kami bertiga melakukan tes diagnostik, tes yang selalu dilakukan para wali kelas 4,5, dan 6, tes dengan mengujikan pelajaran yang akan dibuat ujian akhir. 

    Saya yang kurang menguasai pelajaran Matematika akhirnya mengikuti les privat dengan guru matematika yang kebetulan juga wali kelas 5. Hal ini menunjukkan bahwa kami para guru pun tetap harus selalu menambah ilmu juga kan, tidak stagnan di satu tempat.  Terlebih, sekarang serba elektronik, raport pun sudah menjadi e-raport. Belum lagi yang lain. Karena itu, guru-guru juga mesti membekali dengan literasi digital. Sehingga bisa mengikuti tren belajar siswa di jaman yang serba digital dengan adanya inovasi teknologi.

    Nah, pengalaman terakhir yang akan saya ceritakan dan yang paling tak terlupakan adalah saat saya mengajar pelajaran agama di sekolah National Plus

    Dari awal saya diwanti-wanti jangan sampai menyinggung agama lain, karena walaupun mayoritas murid beragama muslim, tapi owner dan guru-guru mayoritas non muslim.

    Semula saya pikir masih tidak terlalu sulit, tapi ternyata berat juga dalam penyampaian materi terutama dalam penyampaian halal dan haram. Murid pun kritis dan membuat saya kewalahan berusaha untuk sehati-hati mungkin menyampaikan supaya jangan sampai menimbulkan salah paham. 


    Yang paling bikin nyesek saat seorang murid perempuan datang kepada saya untuk curhat menanyakan mengapa nilainya bukan nilai yang sempurna. Ia datang dengan wajah yang sangat sedih, saat saya menanyakan alasannya mengapa dirinya sedih, ia mengatakan ibunya memarahinya dan menyuruhnya harus mendapat nilai sempurna dalam pelajaran agama, bahkan mengancam akan memasukkan dia ke agama lain.

    Saya pun merasa bersalah, walaupun memang kemampuannya hanya mampu mendapat nilai 90, tapi tuntutan sempurnanya itu membuat saya jadi serba salah. Karena 

    Nyatanya, pelajaran agama tidak segampang hanya menghafal surat pendek misalnya, pelajaran agama juga mencakup keseluruhan aspek, baik itu budaya, sejarah, maupun aspek lain yang tidak gampang dipelajari. Jangankan anak kecil, orang dewasa pun masih banyak yang berbeda pemahaman dan pandangan terhadap agamanya sendiri.

    Dari pengalaman-pengalaman itulah, saya berkesimpulan bahwa setiap pekerjaan dan profesi apapun itu tetap mempunyai tantangan masing-masing, pun tetap mempunyai tingkat kesulitan masing-masing. Saling respect satu sama lain akan membawa sikap saling menghargai, apapun profesi kita.

    Semoga guru akan selalu jadi pahlawan tanpa tanda jasa. Dan juga melawan stigma negatif peran guru akhir-akhir ini yang mewarnai fenomena tak diinginkan di kalangan generasi kita. Semoga sekolah akan tetap aman, nyaman, berkualitas, dan mengajarkan budi pekerti yang menjadi bekal moral anak didik.

    Meskipun sekarang saya harus melepaskan profesi keguruan saya dan beralih profesi menjadi online seller atau penjual online. Tapi setidaknya saya tetap berada pada jalur pendidikan, karena salah satu produk saya adalah buku dan alat penunjang edukasi anak.. 

    Bukankah pejuang pendidikan itu tak selamanya harus guru, bahkan seorang ibu rumah tangga pun bisa menjadi pejuang pendidikan selama mereka mengajarkan pendidikan budi pekerti dan akhlak yang baik kepada anaknya, karena sesungguhnya pendidikan pertama dan utama berasal dari keluarga.

    Salam dari saya, Sun, seorang yang tak pernah berhenti belajar sebagai pendidik, bermula dari rumah. Seperti yang saat ini saya lakoni.



    - The Jannah Institute -


    Kontributor : Sundari, Madiun
    Foto : pixabay.com, dokpri


  • One Day Workshop Islamic Public Speaking for Kids, Belajar Bertutur Kata Sesuai dengan Tuntunan Islam


    “Karena berbicara harus ahsan, sopan dan tentunya jujur, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW”.
    Terbiasa dengan kelas Public Speaking for Kids reguler yakni 10 kali pertemuan. Pada 4 Mei 2019, The Jannah Institute (TJI) telah sukses menggelar event One Day Workshop Islamic Public Speaking for Kids. Event yang ber-partner dengan Jember Youth Club ini dilaksanakan di Lippo Plaza Jember.

    Kelas kali ini cukup berbeda karena diadakan untuk menyambut bulan suci Ramadhan serta sebagai kelas preview bagi mereka yang belum pernah mengikuti kelas-kelas di TJI. Selain itu, tentu tujuan awalnya untuk lebih mengenalkan bagaimana sih Islamic public speaking itu sebenarnya.

    Islamic Public Speaking hampir sama dengan public speaking pada umumnya. Namun, dalam Islamic public speaking terdapat nilai-nilai Islam yang menjadi salah satu pondasinya. Yaitu berbicara yang tak hanya berani bicara seperti slogan kelas Public Speaking for Kids "Aku Anak Berani", tapi juga harus mengajak pada kebaikan, jujur, dan beretika.





    Apa saja yang dipelajari dalam One day Workshop Islamic Public speaking?


    Sama seperti kelas reguler, hanya saja dengan versi mini dikarenakan keterbatasan waktu. Berikut ini materi-materi yang disampaikan dengan fun learning dari one day workshop yang diadakan sejak jam 13.00 dan berakhir jam 18.00 ini. 

    1. Mengapa harus belajar public speaking?
    2. Bagaimana sih cara berbicara yang baik dan benar sesuai dengan Islam?
    3. Its Time to Voice Power
    4. Profesi dalam Public Speaking
    5. How To Be Public Speaker?

    Sama seperti kelas-kelas di The Jannah Institute yang lainnya, metode fun learning juga digunakan saat workshop ini. Melalui metode ini peserta lebih mudah menerima informasi yang disampaikan karena disertai dengan contoh dari trainer dan di akhir kegiatan seluruh peserta akan menampilkan beberapa profesi dalam public speaking bersama dengan kelompoknya. Seperti vlogger, ustadz, da’iyah, pendongeng serta reporter.




    Workshop ini dibuka dengan sesi perkenalan yang sangat seru, yaitu dengan memperagakan gerakan binatang sesuai dengan yang dipilih masing-masing, dilanjutkan dengan berlatih voice power untuk memaksimalkan kekuatan suara terbaik dari seorang public speaker hingga dilanjutkan dengan serangkaian kegiatan lainnya.

    Selain trainer dan fasilitator utama, Kak Prita HW, workshop ini juga sukses berkat antusias dari kakak-kakak fasilitator atau pendamping kelompok yang berasal dari Jember Youth Club. Jember Youth Club adalah wadah alumni kelas Public Sepaking for Youth TJI. 





    Workshop yang bertempat di Atrium Lippo Plaza Jember ini diikuti oleh 32 peserta se-Jember. Meskipun hanya satu hari, tetapi workshop ini mampu membuat para peserta belajar tampil dengan cukup membanggakan dan ditonton oleh para ayah bunda serta seluruh pengunjung Lippo Plaza. 





    Bonusnya adalah mendapat respon yang luar biasa dari para bunda-bunda yang terkumpul di Whats App Group. Seperti beberapa bunda berikut ini :

    “Terima kasih Kak Prita dan tim. Acaranya edukatif sekali, dan anak saya sangat senang karena ada wadah untuk menyalurkan hobi ngomongnya. Saran ya Kak, waktunya diperpanjang lagi atau diadakan saat liburan sekolah” – Bunda Janeeta.

    “Saya kaget kemaren liat putri saya, dia anaknya tertutup kalau di depan umum tapi pas acara kemaren antusias sekali. Ditunggu kegiatan lainnya ya Kak” – Bunda Rayya.

    “Kak Prita kalau bisa adain kelas lanjutan ya untuk public speakingnya, biar putra saya bisa belajar lebih lagi” – Bunda Raia.

    “Terimakasih, acaranya seru sekali. Anak-anak semangat banget tampil di panggung. Saran ya kak, kalau bisa next event mulai pagi sampai sore” – Bunda Auliya.

    "Mas Azzam senang, serruu sekali katanya dapat pengalaman dan teman baru. O iya tambahannya, dapet kue yang enakkk katanya. Kalau Mas Fatih senang karena bisa mendengarkan cerita teman-, teman yang lain. Dan Mas Daris senang karena ada kegiatan positif, daripada nganggur di rumah." - Bunda Daris, Azzam, Fatih.

    Selain berpartner dengan Jember Youth Club dan juga Lippo Plaza, workshop ini didukung oleh beberapa partner seperti :

    Bee Donuts (Donat Karakter Jember)
    Terimakasih untuk snack box yang lucu dan mengenyangkan untuk adek-adek peserta dan panitia


    Macarina (Macaroni Nagih)
    Terimakasih unuk makaroni renyah sedunia dan kemasan goodie bag yang lucu


    Bebek Mbegor  Jember
    Terimakasih untuk lunch box dengan menu ayam empuk dan sambel maknyuuus, juga voucher untuk doorprize nya!


    Susu HiLo School
    Terimakasih untuk susu yang segar diminum kapan aja.


    Taman Botani Sukorambi
    Terimakasih untuk free pass untuk seluruh panitia dan peserta.


    Lapak The Jannah
    Terimakasih untuk doorprize pouch lucunya.


    Eatnauw
    Terimakasih untuk jajanan rambut nenek yang istimews


    - The Jannah Institute - 





  • Gelar Pelatihan dan Pemberdayaan Perempuan, Alfamart Juga Sosialisasikan Diet Kantong Plastik


    Bukan hanya sekali ini saja Alfamart  melakukan pelatihan dan pemberdayaan kepada para perempuan. Ber-partner dengan The Jannah Institute, acara ini telah sukses digelar untuk kelima kalinya.

    Di pelatihan kelima yang diselenggarakan di Grand Cafe, Jalan Jawa Jember ini bisa dikatakan sebagai momen yang cukup spesial. Menurut host yang juga founder The Jannah Institute, Kak Prita HW, spesialnya karena adanya sosialisasi diet kantong plastik dan pelatihan pembuatan puff pastry.


    Baca Juga : Pelatihan Pertama - Tiga Perempuan Berbagi di Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat Khusus Perempuan Gelaran Alfamart Jember dan The Jannah Institute

    Acara yang digelar pada Selasa, 9 April 2019 ini memang menjadi salah satu program pertanggungjawaban perusahaan kepada masyarakat atau yang lebih dikenal sebagai CSR (Corporate Social Responsibility)



    Hal ini dituturkan Pak Yosia Andika Pakiding selaku Branch Manager Alfamart Jember dalam keynote speech nya, "Alfamart tak hanya ingin mengurusi soal bisnis dan keuntungan semata, tapi bagaimana memberikan manfaat juga untuk masyarakat luas. Makanya, pelatihan seperti ni sudah rutin kami adakan bekerjasama dengan The Jannah Institute", ujarnya. 

    Pelatihan Pembuatan Puff Pastry


    Puff pastry merupakan salah satu dari sekian banyak jenis kue yang biasa tersaji di acara-acara penting atau momen-momen yang cukup spesial. Sensasi crunchy dari puff pastry yang dipadu dengan berbagai macam topping menjadikan puff pastry memiliki ciri khas tersendiri. Selain itu, bentuk dari puff pastry ternyata juga bisa dikreasikan menurut selera masing-masing.


    Misalnya seperti sekarang ini, setelah dilakukan demo tentang bahan-bahan dan pembuatan adonan puff pastry, setiap peserta diberikan satu adonan puff pastry yang bisa dibentuk sesuai dengan kreasi masing-masing. Selain itu, isian atau filling dari puff pastry juga beraneka ragam. Bisa diisi dengan cokelat, kacang, keju, serta fla susu yang dikombinasikan dengan topping buah.


    Baca Juga : Pelatihan Kedua - Gelaran Kedua Alfamart Jember x The Jannah Institute, Eh Ada Alfamind!

    Pelatihan ini mendatangkan pemateri yang sudah tidak diragukan lagi keahliannya di bidang kuliner terutama baking, yaitu Moms Indah Setyorini atau yang akrab disapa dengan Mbak atau Bu Indah. Sst, Moms Indah ini juga salah satu alumni Public Speaking for Moms nya The Jannah Institute loh. Selain sudah terkenal dalam bidangnya, Bu Indah ini juga owner dari Kinarya Cake dan Bedhag Coffee. 



    Kinarya Cake adalah pensuplai bahan setengah jadi untuk menu dessert beberapa cafe terkenal di Jember. Dan, Bedhag Coffee yang dijalankan bersama suaminya merupakan salah satu UMKM yang melestarikan kopi lokal Jember dengan kualitas yang tidak kalah dengan kopi-kopi lainnya.

    Pelatihan ini dipilih bukan karena proses pembuatannya saja yang terbilang mudah. Namun, pelatihan ini diharapkan  mampu memberikan motivasi kepada peserta untuk berwirausaha mandiri di bidang kuliner. Apalagi dalam waktu dekat ini akan ada bulan Ramadhan dan selanjutnya momen Idul Fitri, sehingga bisa menjadi langkah awal untuk memulai bisnis di bidang kuliner.


    Selain acara pelatihan pembuatan puff pastry, Alfamart juga melakukan sosialisasi mengenai Diet Kantong Plastik.

    Yuk Diet Kantong Plastik Dari Sekarang

    Sampah merupakan permasalahan yang seakan-akan tidak pernah kunjung selesai. Sampah seringkali menimbulkan dampak yang buruk bagi lingkungan, terutama sampah plastik yang sulit sekali untuk diuraikan.


    Di Indonesia sendiri, hampir 9,8 miliar sampah plastik yang terkumpul setiap tahunnya. Hal ini disebabkan karena banyaknya penggunaan sampah plastik tiap orangnya. Diperkirakan setiap orang mampu menyumbangkan 700 lembar kantong plastik dalam satu tahun. Bayangkan saja berapa banyak jumlah penduduk Indonesia saat ini. Jika dibiarkan, lama kelamaan Indonesia mampu memunculkan gunung-gunung sampah plastik di tiap wilayahnya. Selain itu, sampah plastik merupakan penyumbang nomor dua limbah yang mengalir ke laut.

    Lalu, mengapa plastik masih digunakan?

    Kemasan plastik sangat akrab dengan masyarakat, mulai dari kemasan makanan, minuman, alat-alat mandi dan kantong belanja pun sudah menggunakan kemasan berbahan plastik. Kemasan praktis memberikan kesan yang praktis dan murah. Namun, yang tidak pernah terpikirkan bahwa sampah plastik sangat berdampak buruk bagi lingkungan. Plastik memiliki sifat yang tidak mudah terurai, butuh waktu beratus-ratus tahun bahkan hingga ribuan tahun untuk menjadikan plastik tersebut benar-benar hancur. Sedangkan yang kita ketahui, sampah plastik tiap harinya semakin bertambah jumlahnya.

    Dampak yang sudah terlihat di wilayah perairan laut adalah banyaknya hewan laut yang ditemukan mati akibat dari sampah plastik. Misalnya akhir tahun 2018 kemarin, tepat 19 November, ditemukan seekor paus yang mati di wilayah Pantai Wakatobi. Itu akibat dari hampir 50% sampah plastik yang memenuhi perutnya, dan sampah tersebut tidak bisa dicerna. Tidak hanya di Wakatobi, pada 9 Desember, juga ditemukan penyu yang mati di Perairan Kulon Progo dengan kasus yang sama seperti di Pantai Wakatobi.

    Bukannya plastik bisa didaur ulang?

    Sampah plastik memang dapat didaur ulang oleh karena itu, banyak yang menganggap remeh kasus ini. Namun faktanya tidak demikian. Menurut data lembaga Sustainable Waste Indonesia tahun 2018, berat sampah di Indonesia mencapai 4.000 ton per hari. Jika jumlah tersebut dikategorikan menjadi 100% sampah yang dihasilkan perharinya. Berapakah yang bisa di daur ulang?



    Hanya 7% sampah plastik yang bisa didaur ulang.

    Selebihnya kemana? 69% langsung berakhir di tempat pembuangan akhir dan 24% sisanya masih mencemari lingkungan.

    Mungkin bisa dibayangkan, akan seperti apa Indonesia jika hal ini dibiarkan terus menerus.

    Sampah yang didaur ulang pun biasanya memiliki kategori tertentu. Sedangkan sampah plastik yang tidak bisa didaur ulang biasanya langsung dijual kepada pemasok dengan harga yang sangat rendah. Harga sampah plastik biasanya diantara Rp.100-Rp.2.200 setiap kilogramnya.

    Bahkan Enri Damanhuri, peneliti lingkungan dari ITB mengatakan selama sampah dipandang kurang memiliki nilai, maka sampah-sampah tersebut tidak akan didaur ulang dan dibiarkan begitu saja.

    Jika sudah demikian, apakah cukup hanya dengan peran dari komunitas dan juga pemerintah? Tentu saja tidak.

    Permasalahan sampah bukan sekedar tanggungjawab pihak tertentu, namun seluruh elemen dalam sebuah negara. Baik itu dari pemerintah yang membuat kebijakan, perusahaan yang juga membutuhkan keuntungan dan warga negara secara keseluruhan sebagai pelaku atau pelaksana kebijakan. Semua elemen saling bersinergi, berkaitan dan tidak bisa dilepaskan.

    Pemerintah berkewajiban membuat kebijakan yang mengatur tentang penggunaan sampah plastik, cara penanganan serta benar-benar menerapkan kebijakan yang telah dibuat. Tidak memilih pihak tertentu sebagai objek kebijakan dan konsisten dalam menerapkan kebijakan. Jika pemerintah sudah tegas dengan kebijakannya, otomatis elemen negara yang lainnya juga akan mengikuti.

    Namun, apa yang terjadi sekarang? Permasalahan sampah yang semakin menumpuk tetapi belum ada kebijakan secara nasional yang mengatur tentang hal itu. Bahkan dari komunitaslah yang banyak memberikan edukasi akan bahaya sampah. Tidak sekedar komunitas saja, bahkan Asosiasi Pedagang Ritel Indonesia (APRINDO) mulai mengambil langkah untuk mengurangi volume sampah plastik. Yaitu dengan memberlakukan aturan kantong plastik tidak gratis (KPTG). 

    Kebijakan kantong plastik tidak gratis (KPTG) ini diberlakukan mulai tanggal 1 Maret 2019 di seluruh toko jaringan Alfamart. Kebijakan KPTG bukanlah semata-mata program Alfamart untuk memperoleh keuntungan. 


    Hal ini juga dijelaskan oleh Bapak M. Faruq Asrori selaku Corporate Communication Regional Manager, “Alfamart bersama APRINDO kembali berkomitmen untuk menerapkan program Kantong Plastik Tidak Gratis di seluruh jaringan toko pada 1 Maret 2019, untuk mengurangi jumlah sampah plastic yang beredar”, ungkapnya. 

    Alfamart mengenakan harga Rp.200 per kantong plastik. Selain itu, Alfamart juga menawarkan kantong belanja kain yang bisa dipakai secara berulang dan tentunya juga ramah lingkungan. Tujuannya bukan sebagai tambahan keuntungan bagi Alfamart. Melainkan sebagai motivasi kepada masyrakat untuk mulai mengurangi konsumsi kantong plastik.

    Selain dari pemerintah dan pengusaha, peran masyarakat pun tidak kalah penting dalam hal pengurangan volume sampah ini. Diharapkan masyarakat mampu menerapkan program 4 R, yaitu :
    • Reuse, menggunakan kembali kantong belanja plastic yang masih bisa digunakan
    • Reduce dan Refuse, mengurangi bahkan menolak penggunaan kantong plastik selama masih bisa
    • Recycle, mendaur ulang dan memiliah plastik-plastik bekas
    • Rethink, berpikir kembali sebelum menggunakan kantong plastik
    Dengan adanya program sosialisai mengenai Kantong Plastik Tidak Gratis ini dapat memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya sampah plastik dan upaya pengurangan volume sampah plastik. Serta melalui program ini, Alfamart mampu menjadi salah satu perusahaan go green, yang peduli akan lingkungan sekitar. Serta menjadi perusahaan yang tidak hanya mementingkan keuntungan semata. Namun juga harmonisasi dengan masyarakat dan lingkungan.

    Jadilah Agen Perubahan. Kurangi Konsumsi Plastik. Meski Sedikit, Setidaknya Bisa Mambantu Menjaga Kelestarian Lingkungan Bagi Generasi Selanjutnya. 

    Semangat Memberdayakan Pengusaha Toko Kelontong 

    Acara yang dimulai sejak pukul 09.00 dan diakhiri dengan makan siang ini, menghadirkan Pak Taufik Hidayanto sebagai Store Sales Point Manager. 


    Pak Taufik sendiri sudah sering berbagi di event Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat Khusus Perempuan sebelumnya. Penasaran apa program dari SSP untuk memfasilitasi para pengusaha toko kelontong, mulai dari bentuk rombong atau outlet ataupun warung? Langsung saja meluncur ke 
    Pelatihan Ketiga - Gelaran Ketiga Alfamart Jember x The Jannah Institute Memperkenalkan Apa Itu Store Sales Point 

    Setelah sesi Pak Taufik, makan siang sudah menunggu. Menu yang disajikan sungguh membuat perut tak sabar untuk segera melahapnya. Ada nasi goreng, sop buntut, nasi ayam kremes, kwetiauw goreng, dan juga sajian minuman es teh. 


    Tak lupa dibagi pula doorprize untuk para peserta yang berhasil menjawab pertanyaan ala kuis dari Bu Ame, corporate communication Alfamart. Juga ada fasilitas kartu member Alfamart free khusus buat yang belum terdaftar sebagai member.  

    Baca Juga : Pelatihan Keempat - Seru-Seruan bareng Alfamart dan The Jannah Institute di Rollas Cafe Jember

    30 peserta yang hadir hari itu pun pulang dengan senyum mengembang sambil membawa goodie bag di tangannya, oleh-oleh kecil dari Alfamart. Terimakasih Alfamart!



    Penulis - Siska Rofita
    Editor - Prita HW

    Semua Foto Dok. Pribadi The Jannah Institute

    - Wassalam, TJI - 
  • TJI Sharing Session with Kak Miyosi Ariefiansyah



    Menulis bagi banyak orang bisa jadi pekerjaan yang susah susah gampang atau sebaliknya, gampang gampang susah. Jannati termasuk yang mana nih? Tapi, ga perlu kuatir, buat yang belum bergabung dengan The Jannah Institute (TJI) Community di grup Whats App, TJI akan feature artikel review yang terpilih sebagai best post di tiap sesinya. 

    Nah, untuk sesi pertama #TJIsharingsession yang diadakan setiap Rabu malam dengan rentang waktu dua minggu sekali ini bertemakan : Bagaimana Menulis untuk Pemula. Tips-tips apa saja yang dibagikan oleh Kak Miyosi yang sudah malang melintang di dunia kepenulisan. Simak nih profil singkatnya ya.

    Kak Miyosi mulai masuk di dunia menulis tahun 2009 setelah menikah, saat merantau ke Bekasi. Memiliki hobi membaca dan menulis sejak TK, tapi nggak pernah membayangkan akan menjadi penulis. Mengapa?, karena zaman dulu profesi sebagai penulis dipandang sebelah mata bahkan sering dianggap sebagai orang yang nggak punya kerjaan.

    Kak Miyosi memulai karier menulis dengan menjadi penulis konten, lanjut penulis buku dengan ikut agen naskah serta mandiri menawarkan diri ke penerbit, sempat merasakan jadi editor lepas di Erlangga - Agromedia - Salemba - Bhuana Ilmu Populer, jadi  penulis khusus akuntansi di kantor akuntan publik di T.B. Simatupang Jakarta, jadi redaktur di agen naskah, dan ghost writer.

    Udah kebayangkan gimana jauhnya Kak Miyosi "bermain" di dunia tulis menulis??? 

    Selangkapnya baca di blog Siska Rofita

    - Wassalam, TJI - 
  • Review Buku Read Signs, Read Us : Membaca Tanda-tanda, Membaca Kita bareng Prita HW





    Review Buku Read Signs, Read Us : Membaca Tanda-tanda, Membaca Kita - Di kesempatan #TJIBookReview setiap hari Kamis di WAG TJI Community, kali ini Kak Prita HW sebagai penulisnya berkesempatan untuk mengulas langsung buku solo catatan perjalanannya ke Singapura pada 2016 yang lalu. Seperti apa? Yuk, kita simak, jannati.

    Awal mulanya, Kak Prita bercerita bahwa menulis buku ini sebenarnya karena mendapat beasiswa menulis dari Kemdikbud di 2016. Difasilitasi oleh Gol A Gong dkk dari Rumah Dunia, Serang, Banten yang tergabung dalam Masyarakat belajar Foundation. Waktu itu Kak Prita sebagai Pengurus Forum Taman Baca Masyarakat Jabar ceritanya, berangkat bersamaan dengan 99 warga belajar TBM se-Jabar.. 

    "Aslinya, saya tuh gantiin orang in last minute, karena paspornya ga jadi. Jadi rejeki nomplok sehabis operasi laparatomi (hamil diluar kandungan) saat di Bekasi. Awalnya sempet mbatin, paspor yg saya buat 2013, baru pernah ke Thailand sekali karena dapetin reward kantor pas kerja di advertising, masa sih sampe expired 2018 lalu, ke luar negerinya cuma satu kali?," begitu curhat Kak Prita. 

    "Nggak taunya Allah menjawab doa saya, padahal hanya bergumam. Masyaa Allah ❤", tambahnya. 

    Sempat mengira kalau kompensasi dari beasiswa itu adalah menulis artikel yang bakal dibukukan bareng-bareng alias antologi, nggak tahunya 1 buku per orang! Dan Kak Prita baru tahunya pas tanda tangan kontrak di Banten. Kalau sampai pulang dari Singapura dan buku tersebut nggak jadi terbit, wajib mengembalikan dana Rp. 8 juta. Wow!.

    "Saya termasuk orang yang berani ambil resiko. Saya pikir ini adalah kesempatan untuk kasih tantangan ke diri sendiri," ungkap Kak Prita lagi. 

    ***

    "Menulislah dari jiwamu yang luka, dari jarimu yang kaku. Tapi pikiran dan perasaanmu kau bebaskan kemana pergi. Penulis yang baik tak akan pernah berhenti berkarya, sepanjang batin dan nurani haus akan kata-kata" - Rahmat Heldy Hs, sastrawan Ind

    Quote itu dipilih sebagai pembuka buku, dilanjut dengan puisi yang dirancang khusus oleh salah seorang relawan Rumba HOS Tjokroaminoto Bekasi dimana Kak Prita menjadi direkturnya kala itu.

    Sebelum ke poin Read Signs Read Us, Kak Prita bercerita bahwa awal banget menginjakkan kaki di Changi Airport, langsung teringat wejangan tentang  negeri 1000 peraturan ini. Makanya, angle penulisan yang diambil adalah membaca tanda-tanda, karena rn semua orang mesti punya tingkat literasi tinggi buat bisa hidup disana.

    "Yang saya rasain saat awal di bandara, hening dan rapiii. Nggak ada riuh kayak suara dengungan nyamuk kayak disini. Orang lebih suka menyendiri, nggak berkelompok. Dan semua based machine. Mau alat pijet, beli minum, internet dsb," ceritanya lagi.

    Dan, ada cerita menarik saat di bandara. Kak Prita yang sekelompok terdiri dari 10 orang, menemukan fakta ada 1 orang yang diinterogasi di Imigrasi lkarena namanya yang islami. FYI, polisi jaringan internasional saling terhubung mencurigai nama-nama yang terlalu islami sebagai kemungkinan teroris. Heleh-heleh, bisa-bisa aja kan! 

    "Lepas dari imigrasi itu, 9 orang lainnya, dari bandara, naik MRT dengan membeli tiket yang bisa dipakai all in one bersama busway. Sistemnya deposit yang nanti akan dikembalikan saat kita menukarkan kartu. Kesan menaiki MRT pertama, mirip commuter, cuma antrinya beda banget, berjejer macem antrian di McD. Terus pas di dalam MRT, duinginnn, dan wuzz cepettt. Malam itu, melewati 10 stasiun cuma dengan 15 menit. Luar biasa." ungkap Kak Prita lagi.

    Malam itu langsung menuju Merlion. Sebelum ke hotel. Kak Prita yang baru bed rest sebulan pasca operasi, harus berjuang membopong backpack dan kamera DSLR suami yang terasa berat dikalungkan di leher (itu pun mesti mengingat teori fotografinya yang sempat dipelajari privat semalam sebelum keberangkatan). Hmm..

    "Saya nggak ikutin ritme guide kelompok. Milih slow travel, saya ngumpulin street photography (karena ter-influence buku puisi A2DC nya Aan Mansur). Jadi deh kesasar. Keasikan motoin jalanan, orang-orang, pengamen, dll. Untung ketemu temen yang juga fotografer. Kami cari bareng itu Merlion." Kak Prita menjelaskan kisahnya lagi.

    Siapa sangka Kak Prita merasa tertipu dengan gembar gembor Merlion. "Canggih banget bahasa promo Kemenparnya Singapura. Orang patung Singa kayak di depan gang-gang jalan di Indonesia, bisa jadi simbol mendunia. Melongo saya, asli. Dan mengutuk diri sendiri, damn for my Indonesia, banyak yang bisa dijual, tapi nggak se-spektakuler caranya Singapore."

    Kak Prita di saat yang sama juga ketemu bule yang lagi bawa kamera juga. Si bule pun bertanya, "How do you think about Merlion? They promoted a lot ya?" . Ternyata bule itu juga merasakan nasib dan perasaan yang sama dengan Kak Prita.

    Walhasil, malam itu Kak Prita melongo sambil memandangi sungai buatan di depan mata. Sambil melihat kerlap kerlip lampu Marina Bay. Macam taman kota lah kalau di Indonesia.

    "Dari sana, saya ngamatin banyak pengamen yang semangat menghibur meski mereka di usia senja. Pake biola rata-rata. Yang naroh kotak koper gitu di depannya. Then, merhatiin waiters resto yang sumringah nawarin kita-kita makanan pake bahasa melayu. Tapi ga terpengaruh lah ya, kan pengen hemat," cerita Kak Prita.

    Malam itu, ternyata Kak Prita juga mesti mengalami drama tersesat salam pencarian hotel karena guide kelompok tak bisa dihubungi. Waduh. Untung, tersesatnay akhirnya ke hotel temen sendiri. Dan, ternyata memang campur, antara laki-laki dan perempuan. 

    First time, tidur di hostel ala backpacker yang area tidurnya cuma sekasur single, atasnya sudah orang lain. Macem tempat tidur asrama. Untung saat itu yang berada di atas bukanlah bule. AC nya dingin, wifi-nya kuenceng. Tapi terasa kaku karena memang tidak ada sekat antara laki-laki dan perempuan. 

    Perjalanan berikutnya mengantarkan Kak Prita ke Little India, Kampung Bugis, Clementi, dan Sentosa. Minus China Town yang tak sempat explore selain  membeli oleh-oleh. Lebih detilnya, jannati bisa membaca bukunya langsung ya, hehe.

    ***

    Buku ini juga menceritakan pengalaman paling berkesan dari seorang Kak Prita adalah saat berkunjung ke NLB (National Library Board). pengalaman lengkapnya diceritakan detil di buku ini.

    Akhir dari Read Signs, Read Us

    Pada akhirnya, Kak Prita memberikan kesimpulan tentang maksud dari membaca tanda-tanda, membaca kita, seperti di bawah ini :

    Kelebihan Singapore :

    • Efektif & Integratif
    • Nggak ada polisi, all CCTV. Tiba-tiba saat salah, polisinya muncul begitu saja. 
    • Good marketing
    Kekurangan Singapore :

    • Kerja sampai tua
    • Flat city
    • Apa-apa mahal
    Sedangkan di Indonesia, plusnya :

    Multikultur = lebih kaya
    Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing
    Lebih bebas dalam hal peraturan seperti merokok, makan, minum, dsb

    Minusnya :

    • Sombong karena banyak SDA, padahal banyak dikelola asing aseng, sampai nggak bisa menikmati sendiri
    • Aturan dibuat untuk dilanggar
    • Bad marketing

    Kesimpulan dari Kak Prita kira-kira begini : "That's why hidup disana itu mesti harus selalu baca tanda-tanda, kalau nggak, bisa kena denda selangit. Apalagi orang Indonesia yang sukanya slebor atau terserah gue. Hm, cuma orang-orang Singapore itu memang ketakutan atau merasa "dikebiri" sama peraturan pemerintahnya. Mrk jadi apatis sama keputusan-keputusan pemerintah dan cenderung menerima daripada berurusan panjang."

    Nah, itu tadi jannati review buku yang langsung dibawakan oleh penulisnya. Seru banget kan? Untuk bukunya, karena sudah tidak dicetak lagi, tunggu edisi baru dari Kak Prita ya, yang kabarnya ingin menerbitkan ulang dalam konsep baru. Yey, ditunggu!


    - The Jannah Institute - 


  • GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Alamat

    Jember, Jawa Timur, Indonesia

    Email

    thejannah.ins@gmail.comm
    prita.hw@gmail.com

    Mobile

    +6285 33 1470 887